Arsitektur Tradisional Bali, Konsep Dasar, Filosofi, dan Cirinya

Pada artikel ini akan membahas tentang Arsitektur Tradisional Bali yaitu Konsep Dasar, Filosofi, dan Cirinya.

Arsitektur Tradisional Bali dapat diartikan sebagai tata ruang dari wadah kehidupan masyarakat Bali yang telah berkembang secara turun-temurun dengan segala aturan-aturan yang diwarisi dari zaman dahulu.

Sampai pada perkembangan satu wujud dengan ciri-ciri fisik yang terungkap pada lontar Asta Kosala-Kosali, Asta Patali dan lainnya, sampai pada penyesuaian-penyesuaian oleh para undagi yang masih selaras dengan petunjuk-petunjuk dimaksud.

Konsep Dasar

Arsitektur tradisional Bali memiliki konsep-konsep dasar dalam menyusun dan memengaruhi tata ruangnya, diantaranya adalah:

1. Orientasi Kosmologi atau dikenal dengan Sanga Mandala

Sanga Mandala merupakan acuan mutlak dalam arsitektur tradisional Bali, dimana Sanga Mandala tersusun dari tiga buah sumbu yaitu:
  1. Sumbu Tri Loka: Bhur, Bhwah, Swah; (litosfer, hidrosfer, atmosfer)
  2. Sumbu ritual: Kangin (terbitnya Matahari) dan Kauh (terbenamnya Matahari)
  3. Sumbu natural: Gunung dan Laut

2. Keseimbangan Kosmologi, Manik Ring Cucupu

3. Hierarki ruang, terdiri atas Tri Loka dan Tri Angga

Tri Angga adalah salah satu bagian dari Tri Hita Karana, (Atma, Angga dan Khaya). Tri Angga merupakan sistem pembagian zona atau area dalam perencanaan arsitektur tradisional Bali.
  • Utama, bagian yang diposisikan pada kedudukan yang paling tinggi, kepala.
  • Madya, bagian yang terletak di tengah, badan.
  • Nista, bagian yang terletak di bagian bawah, kotor, rendah, kaki.
Dimensi tradisional Bali yang didasarkan pada proporsi dan skala manusia

Dalam perancangan sebuah bangunan tradisional Bali, segala bentuk ukuran dan skala didasarkan pada organ tubuh manusia. Beberapa nama dimensi ukuran tradisional Bali adalah : 
  • Astha
  • Tapak
  • Tapak Ngandang 
  • Musti
  • Depa
  • Nyari
  • A Guli 
Serta masih banyak lagi yang lainnya. sebuah desain bangunan tradisional harus memiliki aspek lingkungan ataupun memperhatikan kebudayaan tersebut.

Filosofi Arsitektur Bali

Filosofi arsitektur tradisional Bali pada masa prasejarah hingga kekuasaan Majapahit (abad XV – XIX) dianggap sebagai masa tumbuh dan berkembangnya arsitektur tradisional Bali yang dilandasi oleh lontar asta kosala-kosaili dan lontar asta bumi. (Bhagawan Wiswakarma dan Bhagawan Panyarikan)
  • Asta kosala-kosali adalah aturan tentang bentuk-bentuk simbol pelinggih, yaitu ukuran panjang, lebar, tinggi, pepalih (tingkatan), dan hiasan.
  • Asta bumi adalah aturan tentang luas halaman pura, pembagian ruang halaman, dan jarak antar-pelinggih.
Varian karakter yang mendasar muncul di antara penduduk di daerah dataran dengan pegunungan serta penduduk di daerah Bali Selatan dengan penduduk di daerah Bali Utara. 

Meskipun demikian, terdapat filosofi dasar atau filosofi utama yang menjadi titik acuan arsitektur tradisional Bali, yaitu prinsip tri angga atau tri loka, konsep kosmologis (tri hita karana), dan orientasi kosmologis.

A.  Prinsip Triangga atau Triloka

Prinsip Triaangga atau Triloka merupakan konsep keseimbangan kosmologis yang dicetuskan oleh Empu Kuturan. Dalam prinsip ini terdapat tiga tata nilai tentang hubungan alam selaku “wadah” dan manusia sebagai “pengisi”. Tata nilai ini memperlihatkan gradasi tingkatan dengan spirit ketuhanan berada pada tingkatan paling tinggi.

Secara aplikatif, filosofi tri angga dapat dilihat dari gestur bangunan yang memperlihatkan tiga tingkatan, yaitu kepala badan-kaki. Dari filosofi tri angga dan Triloka ini, berkembang konsepsi-konsepsi lain, seperti konsep kosmologis tri hita karana dan konsep orientasi kosmologis

B.  Konsep Kosmologis (Trihitakarana)

Dalam konsep tri hita karana terdapat “tiga unsur” penghubung antara alam dan manusia untuk membentuk kesempurnaan hidup, yaitu jiwa, raga, dan tenaga.

Tiga sumber kebahagiaan tersebut akan tercipta dengan memperhatikan keharmonisan hubungan antara manusia dengan Pencipta, manusia dengan manusia, serta manusia dengan alam.

C.  Orientasi Kosmologis

Dalam orientasi kosmologis di antaranya terdapat konsepsi sanga (sanga mandala/nawa sanga). Konsepsi ini lahir dari perpaduan Astha Dala (delapan penjuru mata angin) dengan dewata nawa sanga (sembilan mitologi dewa-dewa penguasa mata angin). Falsafahnya tetap menitikberatkan upaya menjaga keharmonisan dan keselarasan alam. 

Orientasi ini ditentukan berlandaskan:

Bagi masyarakat Bali, pegunungan dijadikan petunjuk arah (kajake arah gunung dan kelodke arah laut).
Gunung Agung merupakan orientasi utama yang paling disakralkan. Namun, untuk wilayah yang tidak berdekatan dengan Gunung Agung, umumnya berorientasi ke pegunungan terdekat. 

Posisi pegunungan yang berada di tengah-tengah menyebabkan Bali seakan terbagi menjadi dua bagian, yaitu Bali Utara dan Bali Selatan.  

Oleh karena itu, pengertian kaja bagi orang Bali yang berdiam di sebelah utara dengan sebelah selatan menjadi berlainan, padahal patokan sumbu mereka tetap, yaitu sumbu Kaja-keloddan Kangin-kauh.

Ciri Khas Arsitektur di Bali

Selain dikenal dengan kecantikan pulau dan pantainya, pesona Bali juga kental dengan ciri khas arsitekturnya yang berbeda dan punya unsur kuat. Hampir semua bangunan bernuansa Bali memperlihatkan  material yang kental dengan nuansa alami dan juga pahatan yang indah pada pintu.

Tidak heran bila arsitektur Bali  sangat digemari oleh seluruh pelosok Indonesia maupun mancanegara. Melihat keunikan dari arsitektur khas pulau dewata ini

Ciri khas dari bangunan arsitektur di Bali.

1. Harmoni dengan alam

Salah satu unsur yang kental dari arsitektur di Bali  adalah konsep arsitektur yang harmoni dengan lingkungan alam. Arsitektur harmoni ini merupakan  karakter dan inheren sebagai watak  dasar arsitektur Bali.

Dengan konsep Tri Hita Karana, arsitektur Bali biasanya terdiri  dari 3 unsur penghubung kerharmonisan yaitu, jiwa, raga dan tenaga. Tiga unsur ini akan menciptakan keharmonisan hubungan antara lingkungan alam, antar-manusia serta manusia dengan Tuhan. 

Biasanya, bangunan tersebut ditandai dengan material yang kental akan nuansa alam seperti batu-batuan alam ataupun bambu.

2. Adanya ukiran di batu atau patung

Sejak kedatangan kerajaan Majapahit di sekitar abad 15, arsitektur Bali secara umum mendapatkan pengaruh dari Hindu. Kedatangan Majapahit ini meninggalkan kebudayaan di Bali berupa teknik pahatan di batu.

Karya-karya pahatan dari batu tersebut kemudian diletakkan di depan rumah dan digunakan sebagai pura atau tempat ibadah orang Hindu.

Seiring perkembangan jaman, selain kehadiran pura kecil di depan rumah, patung juga menjadi salah satu gaya arsitektur yang indentik dengan Bali.

3. Struktur ruang yang  rapi

Gaya arsitektur Bali dibuat dengan konsep Tri Angga yang merupakan konsep keseimbangan.  Tri Angga  merupakan pembagian zona atau area dalam perencanaan arsitektur tradisional Bali, yang memperlihatkan tiga tingkatan yaitu,
  • Utama atau kepala. Bagian ini diposisikan paling tinggi yang diwujudkan dalam bentuk atap. Pada arsitektur tradisional, bagian ini menggunakan atap ijuk dan alang-alang. Namun, seiring perkembangan bagian atap mulai menggunakan bahan modern seperti, genteng.
  • Madya atau badan. Bagian tengah dari bangunan ini diwujudkan dalam bentuk bangunan dinding, jendela dan pintu.
  • Nista atau kaki merupakan  bagian yang terletak di bawah dari sebuah bangunan. Bagian ini diwujudkan dengan pondasi rumah atau bawah rumah yang digunakan sebagai penyangga. Biasanya, bagian ini terbuat dari batu bata atau batu gunung.

4. Struktur Rumah Tradisional Bali

Seperti yang sering kita lihat di beberapa media, rumah-rumah di Bali cenderung memiliki struktur yang kompleks namun tertata rapi. 

Rumah-rumah berarsitektur tradisional Bali tak hanya terdiri atas satu unit stuktur, tapi lebih mengarah ke sekumpulan bangunan-bangunan dimana setiap bangunan dihuni satu kepala keluarga. 

Biasanya, mereka yang tinggal di kompleks ini merupakan keluarga besar dan berasal dari keturunan yang sama. Di sekeliling kompleks bangunan ini dibangun tembok yang tak terlalu tinggi, namun cukup memisahkan dengan dunia luar.

Pada komplek bangunan ini terdapat satu Pura untuk sembahyang, dapur yang digunakan untuk bersama, area untuk tidur, serta area untuk pertemuan penting/perjamuan. 

Untuk tujuan itu, biasanya pada kompleks bangunan ini dibangun 2 macam, yakni paviliun untuk menerima tamu serta paviliun khusus untuk upacara adat dan ritual keagamaan.

Itulah pembahasan tentang Arsitektur Tradisional Bali yaitu Konsep Dasar, Filosofi, dan Cirinya.
Referensi : indomondayharyadi.blogspot.com